IG : @ddinifw


Minggu, 23 Maret 2014

Nice To Meet You

16.52 0 Comments
Nice to meet you…
Karya : Fadhilah Wijayandini

“Lala bangun!!!! Kamu kan hari ini ospek, masih aja jam segini kamu tidur. Bangun!”, teriak ibuku dari luar kamarku.
“Sebentar, Bu. Baru jam segini kok” jawabku sambil menutup muka dengan boneka kesayanganku.
Pagi itu rasanya malas sekali untuk bangun dari kasur, mandi lalu bersiap-siap untuk mengikuti ospek di kampusku. Nyamannya kasurku membuat ku lupa dengan waktu. Kulihat jam di handphone ku dan seketika aku loncat dari kasur. Yak! Waktu menunjukan pukul 06.45 WIB.
Selesai menyiapkan semua barang bawaan untuk ospek, aku merayu ayahku untuk mengantarku ke kampus. “Ayah anterin aku dong, Yah. Aku udah telat banget nih. Aduuuh! Dihukum gak ya?”.
“Kamu tuh ya, gimana gak telat. Bangun siang, sekarang kamu jadi buru-buru kan. Yaudah ayo. Udah siap semuanya? Cek dulu ada yg ketinggalan gak?” kata ayahku.
“Enggak, udah siap semua kok” jawabku.
Baiklah, perkenalkan namaku Rahmila Anandea, biasa dipanggil Lala. Aku mahasiswa baru di salah satu universitas swasta. Dan aku sudah terima nasib jika hari itu aku akan diomelin senior karena telat. Ya, senior BEM fakultas ku menyuruh seluruh mahasiswa baru untuk datang jam 07.00 WIB sedangkan aku sampai dikampus jam 07.10 WIB.
Sesampainya didepan kampus, aku langsung berpamitan dengan ayahku. Aku berlari sambil mencari-cari kenalanku dari twitter. Namanya Vinni. Dia juga meminta tolong kepadaku untuk membuatkan-nya nametag. Entahlah, pasti dia udah uring-uringan menungguku dan aku malah datang terlambat.
“Hey, kamu! Tau gak sekarang jam berapa? Kita kan udah ngasih tau ditwitter kalo ospek dimulai jam 07.00. Kenapa kalian telat?! Sebagai hukuman kalian pakai ini!”, teriak salah satu senior BEM. Dia memberi atribut aneh kepada peserta ospek yang telat, termasuk diriku. Dengan tampangku yang jutek, aku rela dimarahinya, meskipun hati gak ikhlas.
“Cari barisan kelompoknya. Jangan sampai nyasar!” teriak senior itu lagi.
“Aaaah…. Kenapa mesti ada ospek. Ribet banget sih”, kataku didalam hati.
“Vinni ya? Ini nametag lo, sorry gue dateng telat”, kataku sok akrab. Dengan perasaan bersyukur Vinni pun berterima kasih kepadaku. Vinni kedapetan kelompok Gurita dan aku dikelompok Pinguin.
Aku mencari barisan kelompokku. Ah! Banyak sekali kelompoknya, Marmut, Angsa, Kuskus, Kodok, Gurita… “Aha! Ini dia kelompokku”, seruku sambil mencari posisi yang kosong dalam barisan kelompokku.
“Eh, ini disuruh ngapain?”, tanyaku dengan nada jutek kepada seorang cowok.
“Disuruh nulis nama, tanggal lahir, sama alasan masuk kampus ini. Nanti lo dapet kertas dari kakak senior”, jawabnya santai.
“Oke!”
Hahaha… orang ini ku jutekin bisa-bisanya menjawab pertanyaanku dengan santai.
Tiba-tiba ada seorang cewek menepuk pundakku, dan bertanya padaku, “Hey, ini kelompok Pinguin kan? Kenalin namaku Ana”.
“Lala. Iya.” jawabku singkat.
Ya, aku sadar kok jawabannku itu sangat singkat, dan entah mengapa setiap bertemu dengan orang yang baru kutemui aku terlihat jutek…
Lalu, kakak senior memberikan kertas kosong kepadaku dan Ana. Karena aku tidak tahu apa yang mesti aku tulis, aku bertanya lagi ke cowok tadi. Dan dia memberikan kertasnya dan bersedia untuk kucontek isi kertasnya. Nama cowok itu, Danar Alkiano. Terkesan ribet namanya, tapi apa peduli ku? Apapun namanya yang penting aku ingin cepat-cepat selesai acara ospek ini, fyuuh.
***
“Sumpah! Ospeknya gak asik banget.” keluhku.
“Yaudahlah yang penting udah selesai kan ospeknya. Oiya, La. Senin besok dikelas kita duduknya sampingan ya.”, pinta Ranti, teman baruku dikampus.
“Iya atur aja, Ra” jawabku.
Akhirnya aku merasakan menjadi mahasiswi. Ternyata, menjadi anak kuliahan tidak seperti yang aku kira. Tugas seabrek! Iyaaaa…. Itu yang aku keluhin semenjak menjadi anak kuliahan.
***
Belum ada sebulan, aku mulai mengagumi teman sekelasku. Dia cowok yang sewaktu ospek aku jutekin. Danar, aku mulai menggagumimu..........
“Oh inikah cinta, oh inikah cinta….”, nyanyiku yang membuat sahabatku risih.
“Lala! Nyanyi mulu gak bosen apa?” keluh Isti padaku.
“Tau nih, mentang-mentang lagi jatuh cinta sama Danar. Gak di kelas, di jalan, sampai-sampai pas kita mau nyebrang ke warteg pun lu nyanyi itu terus”, kata Vita.
“Namanya juga jatuh cinta, berjuta rasanya. Tapi suara gue bagus kan? Hahaha…” jawabku santai.
Mereka hanya bias menggelengkan kepala karena ke pede-an ku.
***
“La, dapet salam dari Danar.” ledek Ito kepadaku.
“Hah? Waalaikumsalam ya, hahaha…” jawabku.
“Cie Lala sama Danar”, Ito terus saja meledek aku seperti itu.
“Astaga, apa rahasiaku kebongkar? Apa ada yang tau kalau aku suka sama dia dan disebar? Siapa yang tau ini semua selain sahabat-sahabatku?” berbagai pertanyaan hadir dalam benakku.
“Isti! Kok anak-anak pada ledekin aku sama dia? Siapa nyebarin? Aduh… kalau kayak begini aku harus apa?” teriakku. 
“Ya, aku mana tau, La. Hayoloh Lala. Apa jangan-jangan dia juga suka sama kamu. Dia cerita ketemannya, dan temannya yang bocorin itu. Siapa tau aja begitu, La” jawab isti. 
“Ah masa sih? Jangan buat aku makin ke geer-an ya… Yaudahlah aku sok asik aja” kataku pada isti.
Apa mungkin dia juga suka padaku......
***
Beberapa hari setelah kejadian itu, aku memberanikan diri untuk bertanya pada dia. Aku ingin tau apa benar dia juga suka padaku atau tidak.
“Kok anak-anak sekelas pada ngeledekin kita sih? Emang ada apa?”.
“Maaf ya, La. Gara-gara gue, lo jadi ikutan diledekin” jawab Danar.
“Maaf? Gara-gara lo? Maksudnya?” tanyaku.
Dan jawaban Danar membuatku melotot.
“Sebenarnya gue suka sama lo, gue cerita ke Ito dan gak taunya dia sebar terus jadi ledekin kita deh. Maaf ya”.
“Oh, hahaha,,, santai aja Dan” jawabku dengan tersenyum bahagia.
***
“Lala, lagi apa?” isi pesan masuk di handphoneku dari seseorang yang ku kagumi, Danar.
“Lagi dengerin lagu, lo?” kubalas pesannya.
“Kok tiba-tiba dia sms aku ya.”, lamunku yang akhirnya buyar karena bunyi pesan masuk. Dia membalas pesanku.
Ya, semenjak itu kita jadi sering sms-an dengannya.
***
Siang itu, dia mengajakku jalan-jalan. I love time warping. Ya, kami menghabiskan waktu untuk bermain, mengobrol sampai tidak ingat waktu. Pukul 7 malam kami baru beranjak pulang. Diperjalanan pulang, hujan pun tiba-tiba membasahi kami.
“Neduh dulu yuk, La”. Katanya padaku. Dan aku hanya mengangguk.
Neduh dipinggiran ruko. kami mengobrol, dan bercanda. Rasanya nyaman sekali. Tiba-tiba kami saling diam. Hening…
“Em, La. Apa kamu siap kalau aku mau jadi pacarmu?” katanya yang langsung membuatku tertawa.
“Danar, lo becanda? Jangan ngelucu ah, lagi hujan nih, hahaha”.
“Ini serius, La. Aku gak bercanda. Aku tau kok kalau kamu juga suka aku kan? Aku tau dari sahabat            mu.”.
Pernyataan Danar membuatku tak bisa berkata-kata. Aku hanya bisa tersenyum dan mengiyakan.
Astaga, ini aku gak mimpi kan? Pada akhirnya malam itu aku dan dia menjadi sepasang kekasih. Aku bahagia, cowok yang dulu aku jutekin, pada akhirnya aku jatuh cinta padanya dan sekarang dia menjadi pacarku. Nice to meet you, Danar Alkiano…………..

Teruntuk kamu

16.06 0 Comments
Teruntuk kamu
By : Fadhilah Wijayandini

“Sudah berbulan-bulan kita bersama.
Canda, tawa, bahagia.
Sedih, tangis, duka.
Akankah kita bersama, selamanya?”

Kalimat  diatas mungkin tak berarti untuk dirimu.
Itu hanyalah sepenggal kalimat puitis yang ku buat untuk dirimu.
Entah aku yakin kau untukku atau tidak untukku.
Namun aku cukup berterimakasih kau terlah hadir dihidupku.

“Apa aku terlalu berharap kita akan selamanya?
Apa aku terlalu menginginkan kau selalu denganku?
Apa aku masih pantas untuk membahagiakanmu?
Apa kita pantas untuk bersama?”

Pertanyaan diatas cukup membuatku selalu berfikir tentangmu
Tentang perasaanmu padaku,
Tentang kita dikemudian hari,
Tentang cerita kita nanti.

Mungkin kamu muak bila aku selalu mengganggu harimu,
Selalu menuntutmu ini itu demi kebahagiaanku.
Bahkan selalu ku buat jengkel dirimu,
Namun kamu tak pernah memperlihatkan kekesalanmu padaku.

Haruskah ku ucapkan terimakasih padamu?
Ataukan aku harus meminta maaf pada dirimu?
Terimakasih kau telah membuatku yakin padamu
Maaf bila aku selalu ragu dengan perasaanmu.

Tertanda,
Kesayanganmu.

Senin, 10 Maret 2014

PELAKSANAAN DEMOKRASI DALAM BERBAGAI ASPEK KEHIDUPAN BANGSA INDONESIA

03.45 0 Comments
Sebagaimana Negara-negara lain, Negara kita Republik Indonesia adalah Negara demokrasi. Akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari masih sering kita temui perilaku yang tidak demokratis, misalnya berupa tindakan sewenang-wenang, tidak menghargai perbedaan, tidak mematuhi aturan atau kesepakatan yang telah diputuskan.
Apa arti demokrasi itu? Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang diselenggarakan “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”. Menurut teori demokrasi, kedaulatan (kekuasaan tertinggi) berada ditangan rakyat. Dalam pelaksanaannya rakyat akan mewakilkan kepada wakil-wakil rakyat, yang duduk di lembaga-lembaga perwakilan rakyat. Demokrasi yang dipraktikkan disebut demokrasi perwakilan atau demokrasi tidak langsung.
Berdasarkan UUD 1945, lembaga perwakilan rakyat dinegara kita adalah Dewan perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Para wakil rakyat yang duduk dalam lembaga perwakilan rakyat itu mempunyai kewajiban untuk menyalurkan keinginan atau aspirasi rakyat dalam pemerintahan.
Sejak kapan munculnya paham demokrasi? Gagasan tentang demokrasi sudah muncul sejak sekitar abad ke-5 SM, pada masa Yunani kuno. Pada saat itu demokrasi dilakukan secara langsung.
Demokrasi model yunani tidak bertahan lama, penyebabnya ialah munculnya konflik politik dan melemahnya kemampuan Dewan Kota dalam memimpin polis. Sejak berabad-abad tenggelam, paham demokrasi kembali muncul sebagai reaksi penentang terhadap kekuasaan raja yang absolut tersebut.
Bangsa Indonesia telah mencoba bermacam-macam demokrasi. Sejak tahun 1950-1959 dijalankan suatu praktik demokrasi yang cenderung pada sistem Demokrasi liberal. Pada tahun 1959-1966 diterapkan Demokrasi Terpimpin yang dalam praktiknya cenderung otoriter. Mulai tahun 1966 hingga berakhirnya masa Orde baru pada tahun 1998 diterapkannya Demokrasi Pancasila.
Dalam perkembangannya, konsep demokrasi tidak hanya diterapkan dalam bidang politik, melainkan juga diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan. Konsep demokrasi juga diterapkan dalam kehidupan ekonomi, pendidikan, sosial-budaya, dan bidang-bidang kemasyarakatan lainnya. Kehidupan yang demokratis adalah kehidupan yang intinya melibatkan partisipasi rakyat dan ditujukan untuk kepentingan rakyat.
Demokrasi telah menjadi pilihan bagi hampir semua bangsa didunia, tak terkecuali bangsa Indonesia. Oleh karena itu kita wajib menunjukkan sikap positif terhadap pelaksanaan demokrasi dalam berbagai bidang kehidupan. Sikap positif tersebut perlu dibuktikan dengan sikap dan perbuatan yang sejalan dengan unsur-unsur rule of law atau syarat-syarat demokrasi. Demokrasi perlu diwujudkan menjadi suatu kenyataan hidup dalam bidang apapun. Semua warga Negara tanpa kecuali, baik penguasa maupun rakyat biasa, harus membiasakan hidup demokratis.

Sumber : Almond, Gabrie A. dan Sidney Verba. (1990). Budaya Politik, Tingkah Laku Politik, dan Demokrasi di Lima Negara, Jakarta: Bina Aksara.