Nice to meet you…
Karya : Fadhilah
Wijayandini
“Lala bangun!!!! Kamu
kan hari ini ospek, masih aja jam segini kamu tidur. Bangun!”, teriak ibuku
dari luar kamarku.
“Sebentar, Bu. Baru jam
segini kok” jawabku sambil menutup muka dengan boneka kesayanganku.
Pagi itu rasanya malas
sekali untuk bangun dari kasur, mandi lalu bersiap-siap untuk mengikuti ospek
di kampusku. Nyamannya kasurku membuat ku lupa dengan waktu. Kulihat jam di
handphone ku dan seketika aku loncat dari kasur. Yak! Waktu menunjukan pukul
06.45 WIB.
Selesai menyiapkan semua
barang bawaan untuk ospek, aku merayu ayahku untuk mengantarku ke kampus. “Ayah
anterin aku dong, Yah. Aku udah telat banget nih. Aduuuh! Dihukum gak ya?”.
“Kamu tuh ya, gimana gak
telat. Bangun siang, sekarang kamu jadi buru-buru kan. Yaudah ayo. Udah siap
semuanya? Cek dulu ada yg ketinggalan gak?” kata ayahku.
“Enggak, udah siap semua
kok” jawabku.
Baiklah, perkenalkan
namaku Rahmila Anandea, biasa dipanggil Lala. Aku mahasiswa baru di salah satu
universitas swasta. Dan aku sudah terima nasib jika hari itu aku akan diomelin
senior karena telat. Ya, senior BEM fakultas ku menyuruh seluruh mahasiswa baru
untuk datang jam 07.00 WIB sedangkan aku sampai dikampus jam 07.10 WIB.
Sesampainya didepan
kampus, aku langsung berpamitan dengan ayahku. Aku berlari sambil mencari-cari
kenalanku dari twitter. Namanya Vinni. Dia juga meminta tolong kepadaku untuk
membuatkan-nya nametag. Entahlah, pasti dia udah uring-uringan menungguku dan
aku malah datang terlambat.
“Hey, kamu! Tau gak
sekarang jam berapa? Kita kan udah ngasih tau ditwitter kalo ospek dimulai jam
07.00. Kenapa kalian telat?! Sebagai hukuman kalian pakai ini!”, teriak salah
satu senior BEM. Dia memberi atribut aneh kepada peserta ospek yang telat,
termasuk diriku. Dengan tampangku yang jutek, aku rela dimarahinya, meskipun
hati gak ikhlas.
“Cari barisan
kelompoknya. Jangan sampai nyasar!” teriak senior itu lagi.
“Aaaah…. Kenapa mesti
ada ospek. Ribet banget sih”, kataku didalam hati.
“Vinni ya? Ini nametag
lo, sorry gue dateng telat”, kataku sok akrab. Dengan perasaan bersyukur Vinni
pun berterima kasih kepadaku. Vinni kedapetan kelompok Gurita dan aku dikelompok Pinguin.
Aku mencari barisan
kelompokku. Ah! Banyak sekali kelompoknya, Marmut,
Angsa, Kuskus, Kodok, Gurita… “Aha!
Ini dia kelompokku”, seruku sambil mencari posisi yang kosong dalam barisan
kelompokku.
“Eh, ini disuruh
ngapain?”, tanyaku dengan nada jutek kepada seorang cowok.
“Disuruh nulis nama,
tanggal lahir, sama alasan masuk kampus ini. Nanti lo dapet kertas dari kakak
senior”, jawabnya santai.
“Oke!”
Hahaha… orang ini ku
jutekin bisa-bisanya menjawab pertanyaanku dengan santai.
Tiba-tiba ada seorang
cewek menepuk pundakku, dan bertanya padaku, “Hey, ini kelompok Pinguin kan? Kenalin namaku Ana”.
“Lala. Iya.” jawabku
singkat.
Ya, aku sadar kok
jawabannku itu sangat singkat, dan entah mengapa setiap bertemu dengan orang
yang baru kutemui aku terlihat jutek…
Lalu, kakak senior
memberikan kertas kosong kepadaku dan Ana. Karena aku tidak tahu apa yang mesti
aku tulis, aku bertanya lagi ke cowok tadi. Dan dia memberikan kertasnya dan
bersedia untuk kucontek isi kertasnya. Nama cowok itu, Danar Alkiano. Terkesan
ribet namanya, tapi apa peduli ku? Apapun namanya yang penting aku ingin
cepat-cepat selesai acara ospek ini, fyuuh.
***
“Sumpah! Ospeknya gak
asik banget.” keluhku.
“Yaudahlah yang penting
udah selesai kan ospeknya. Oiya, La. Senin besok dikelas kita duduknya
sampingan ya.”, pinta Ranti, teman baruku dikampus.
“Iya atur aja, Ra”
jawabku.
Akhirnya aku merasakan
menjadi mahasiswi. Ternyata, menjadi anak kuliahan tidak seperti yang aku kira.
Tugas seabrek! Iyaaaa…. Itu yang aku keluhin semenjak menjadi anak kuliahan.
***
Belum ada sebulan, aku
mulai mengagumi teman sekelasku. Dia cowok yang sewaktu ospek aku jutekin.
Danar, aku mulai menggagumimu..........
“Oh inikah cinta, oh
inikah cinta….”, nyanyiku yang membuat sahabatku risih.
“Lala! Nyanyi mulu gak
bosen apa?” keluh Isti padaku.
“Tau nih,
mentang-mentang lagi jatuh cinta sama Danar. Gak di kelas, di jalan,
sampai-sampai pas kita mau nyebrang ke warteg pun lu nyanyi itu terus”, kata Vita.
“Namanya juga jatuh
cinta, berjuta rasanya. Tapi suara gue bagus kan? Hahaha…” jawabku santai.
Mereka hanya bias
menggelengkan kepala karena ke pede-an ku.
***
“La, dapet salam dari
Danar.” ledek Ito kepadaku.
“Hah? Waalaikumsalam ya,
hahaha…” jawabku.
“Cie Lala sama Danar”,
Ito terus saja meledek aku seperti itu.
“Astaga, apa rahasiaku
kebongkar? Apa ada yang tau kalau aku suka sama dia dan disebar? Siapa yang tau
ini semua selain sahabat-sahabatku?” berbagai pertanyaan hadir dalam benakku.
“Isti! Kok anak-anak
pada ledekin aku sama dia? Siapa nyebarin? Aduh… kalau kayak begini aku harus apa?”
teriakku.
“Ya, aku mana tau, La.
Hayoloh Lala. Apa jangan-jangan dia juga suka sama kamu. Dia cerita ketemannya,
dan temannya yang bocorin itu. Siapa tau aja begitu, La” jawab isti.
“Ah masa sih? Jangan
buat aku makin ke geer-an
ya… Yaudahlah aku sok asik aja” kataku pada isti.
Apa mungkin dia juga
suka padaku......
***
Beberapa hari setelah
kejadian itu, aku memberanikan diri untuk bertanya pada dia. Aku ingin tau apa
benar dia juga suka padaku atau tidak.
“Kok anak-anak sekelas
pada ngeledekin kita sih? Emang ada apa?”.
“Maaf ya, La. Gara-gara
gue, lo jadi ikutan diledekin” jawab Danar.
“Maaf? Gara-gara lo?
Maksudnya?” tanyaku.
Dan jawaban Danar
membuatku melotot.
“Sebenarnya gue suka
sama lo, gue cerita ke Ito dan gak taunya dia sebar terus jadi ledekin kita
deh. Maaf ya”.
“Oh, hahaha,,, santai
aja Dan” jawabku dengan tersenyum bahagia.
***
“Lala, lagi apa?” isi
pesan masuk di handphoneku dari seseorang yang ku kagumi, Danar.
“Lagi dengerin lagu,
lo?” kubalas pesannya.
“Kok tiba-tiba dia sms
aku ya.”, lamunku yang akhirnya buyar karena bunyi pesan masuk. Dia membalas
pesanku.
Ya, semenjak itu kita
jadi sering sms-an
dengannya.
***
Siang itu, dia
mengajakku jalan-jalan. I love
time warping. Ya, kami
menghabiskan waktu untuk bermain, mengobrol sampai tidak ingat waktu. Pukul 7
malam kami baru beranjak pulang. Diperjalanan pulang, hujan pun tiba-tiba
membasahi kami.
“Neduh dulu yuk, La”.
Katanya padaku. Dan aku hanya mengangguk.
Neduh dipinggiran ruko.
kami mengobrol, dan bercanda. Rasanya nyaman sekali. Tiba-tiba kami saling
diam. Hening…
“Em, La. Apa kamu siap
kalau aku mau jadi pacarmu?” katanya yang langsung membuatku tertawa.
“Danar, lo becanda?
Jangan ngelucu ah, lagi hujan nih, hahaha”.
“Ini serius, La. Aku gak
bercanda. Aku tau kok kalau kamu juga suka aku kan? Aku tau dari sahabat mu.”.
Pernyataan Danar
membuatku tak bisa berkata-kata. Aku hanya bisa tersenyum dan mengiyakan.
Astaga, ini aku gak
mimpi kan? Pada akhirnya malam itu aku dan dia menjadi sepasang kekasih. Aku
bahagia, cowok yang dulu aku jutekin, pada akhirnya aku jatuh cinta padanya dan
sekarang dia menjadi pacarku. Nice
to meet you, Danar Alkiano…………..