IG : @ddinifw


Minggu, 20 Juli 2014

Bunga tidur...

10.59 0 Comments
Sudah kesekian kalinya aku bermimpi tentangmu.
Sudah kesekian kalinya juga dada ini terasa sesak karena mimpi itu.
Kamu memang hadir menjadi bunga tidurku, namun mengapa kehadiranmu membuat dadaku sakit tersesak dan aku tak mampu untuk mengingat mimpi tersebut.
Bermimpi tentangmu memang itu yang ku inginkan. Tetapi tak seperti ini yang ku harapkan.
Mimpi itu terasa seperti nyata. Jelas sekali bahwa kamu memang ingin pergi dariku. Ingin menjauh dariku.
Aku tak kuasa jika mimpi itu terjadi secara nyata. Rasanya aku tak ingin semua mimpiku itu kenyataan. Aku tak sanggup. Aku tak ingin kamu pergi dariku, tak ingin kamu menjauhi diriku.
Jujur saja, mimpi itu menyakitkan untukku. Seperti tertampar oleh kenyataan bahwa kamu memang bukan milikku lagi. Untuk apa aku berharap lebih dari dirimu lagi. Tak layak juga aku menahanmu agar tetap bersamaku lagi.

Ya……. Memang tak semestinya kamu hadir dimimpiku lagi. Mimpi buruk ini menyadarkanku. “Untuk apa aku menyimpan banyak harapan kepadamu bahwa kenyataannya kamu tak bisa memberikanku harapan untuk kesekian kalinya, lagi” 
Tertanda,
Yang merindukanmu.

Minggu, 13 Juli 2014

kenapa?

08.10 0 Comments
Kenapa?
By : Fadhilah Wijayandini

kenapa tangisku tak bisa berhenti?
kenapa aku harus menangisi kamu.
kenapa aku harus menangisi keputusanku itu.
kenapa juga aku harus menangisi kita yang sudah tak bersama lagi

kenapa kita harus seperti ini sih?
kenapa kamu keras kepala tak ingin mempertahankanku.
kenapa kamu biarkan aku menyerah.
kenapa juga kamu harus melepaskanku dan memilih untuk sendiri.

kamu tak tau kan kenapa aku melepaskanmu.
seharusnya kamu perjuangin kita!
seharusnya kamu jangan lepasin aku!
seharusnya kita tak berpisah!

menyesal?
tidak. aku tidak menyesal.
aku hanya menyayangkan kenapa ini harus terjadi.
kenapa kita tak bisa bersatu lagi.

aku muak.
aku benci kamu.
kamu tak memperjuangkanku.
kamu pun melepaskanku disaat aku sudah mulai lelah

kamu kemana?
kenapa kamu mendukungku untuk bahagia tanpamu.
nyatanya, kini aku sedang mencoba untuk bahagia tanpamu.
aku mencoba, tapi hatiku masih belum sanggup untuk melakukannya.

aku muak mesti nangis mu.
aku benci kenapa aku menangisi dirimu.
kamu tak pantas ku tangisi.
seharusnya, kini kita saling mencintai.

Tertanda,
Yang pernah menjadi kesayanganmu.